04
Okt
07

Meliput Hari Raya Idul Fitri

“Dengan menyebut asma Allah Yang Pemurah lagi Pengasih
Sungguh, menanglah orang yang suci hati (dengan beriman dan mengingat Tuhannya), lalu shalat. Namun pada umumnya kalian lebih mengutamakan hidup di dunia, padahal kehidupan di akherat lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini semua sudah termaktub dalam kitab-kitab terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS Al A’la 87:14-19)

 

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: “Bahwasanya Rasul saw menaiki mimbar dan bersabda: Amin, lalu menaiki tingkat kedua, dan bersabda: Amin, kemudian menaiki tingkat ketiga juga bersabda: Amin, akhirnya beliau tegak, lalu duduk. Tanya Mu’adz bin Jabal: Ya Rasul, hikmah apakah yang terkandung dalam tindakanmu (menaiki mimbar 3 tingkat seraya membaca 3x Amin). Jawab beliau saw: Jibril datang dan berkata kepadaku:

‘Ya Muhammad, siapa menjumpai bulan Ramadhan, sama sekali tidak mau berpuasa hingga habis bulan, dosa-dosanya tidak diampuni, maka ia masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya dari neraka.’ Maka akupun mengamini 1x (yang pertama). Dan Jibril berkata: ‘Siapa hidup semasa/menjumpai kedua ibu-bapaknya atau salah satu dari keduanya, ia tidak berbakti kepada mereka, masuklah neraka (kalau mati saat itu). Semoga Allah menjauhkannya dari neraka.’ Maka akupun mengamini (untuk yang kedua kalinya). Selanjutnya Jibrilpun berkata: ‘Siapa yang disisinya namamu disebut, dan ia enggan bershalawat kepadamu, pasti masuk neraka. Semoga ia dijauhkan dari neraka.’ Maka akupun mengamini (untuk ketiga kalinya).”(Zubdah).
Dari Ibnu Mas’ud ra. Nabi saw bersabda: “Ketika umat Islam berpuasa Ramadhan, lalu keluar menuju (tempat) shalat Hari Raya, maka Allah Swt berfirman: ‘Hai para malaikatKu, setiap buruh pasti mengharap upahnya, dan hamba-hambaKu yakni orang-orang yang berpuasa Ramadhan, lalu keluar melaksanakan shalat ‘Id, mereka menuntut upah/pahala mereka, untuk itu saksikanlah bahwa Aku benar-benar telah mengampuni mereka’, kemudian terdengarlah panggilan: ‘Hai umat Muhammad, kembalilah ke rumahmu masing-masing. Aku telah menukar segala keburukanmu dengan amal bagus.’ Allah Swt berfirman: ‘Hai hamba-hambaKu, untuk itu tegak bangunlah, kalian telah diampuni.'” (Zubdatul Wa’idhin).
Dari Anas bin Malik ra, Nabi saw bersabada:
“Puasa seseoang bergantung/melayang di udara antara langit dan bumi, hingga ditunaikan zakat fitrahnya. Dan apabila zakat fitrah itu sudah dibayarkan, maka Allah jadikan padanya dua sayap hijau, lalu puasapun terbang dengan kedua sayap hijaunya langsung menuju langit ketujuh. Kemudian Allah Swt menugasi (malaikat) suapya meletakkan puasa itu dalam sebuah lampu gantung dari sekian lampu-lampu gantung ‘Arasy, hingga pemiliknya datang menghampirinya.” (Zubdah).
Anas bin Malik menjelaskah, bahwa orang mukmin melmiliki 5 hari raya, yaitu:

  1. Setiap hari, dimana orang mukmin tidak dicatat berbuat dosa, berarti itulah hari raya baginya.
  2. Hari, dimana ia meninggal dunia dengan membawa iman, syahadat dan benteng dari godaan syetan/tipu dayanya, berarti itulah hari raya baginya.
  3. Hari, dimana ia melintas shirath, dan aman dari segala bahaya hari Kiamat, aman dari tangan musuh-musuhnya, serta aman dari malaikat Zabaniyah, berarti itulah hari raya baginya.
  4. Hari, dimana ia masuk sorga, aman/bebas dari neraka Jahim, berarti itulah hari raya baginya.
  5. Hari, dimana ia menikmati pandangan kepada Tuhannya, berarti itulah hari raya baginya.

Dari Wahab bin Munabbih, Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya Iblis terkutuk pada setiap Hari Raya ia menjerit, sampai-sampai para anggotanya/bawahannya datang berhimpun di sisinya, sahut mereka : ‘Hai tuan kami, siapakah yang membuat tuan marah, kami siap memporak-porandakannya.’ Jawab Iblis: ‘Tiada apa-apa, tapi Allah benar-benar telah mengampuni kepada umat ini, dalam hari raya ini. Untuk itu, kalian harus memalingkan mereka supaya sibuk dengan segala makanan yang lezat-lezat, dan pelampiasan nafsu syahwat, minum arak, hingga Allah memurkai mereka.'”
Maka dalam hari raya, orang yang sehat otaknya, harus pandai mengekang diri dari segala macam nafsu syahwat, dan hal-hal yang bersifat larangan, bahkan harus senantiasa dalam taat yang langgeng.

Menunjuk sabda Nabi saw:

“Bersungguh-sungguhlah pada hari raya / Idul Fitri dengan bersedekah, dan segala amal baik dan bagus, seperti shalat, zakat, bertasbih dan bertahlil, sebab pada hari itu Allah mengampuni dosa-dosamu, mengabulkan do’amu dan memandangmu penuh kasih sayang.”

(Durratul Wa’idhin).

Hikmah dibalik hari raya:

Ada ulama yang menjelaskan, bahwa hikmah di balik/yang terkandung di dalam hari raya di dunia sekarang ini, adalah meruapakan penggugah kita, tentang adanya hari nanti di akherat. Maka ketika kita perhatikan tangkah pola manusia, setengahnya ada yang berangkat dengan jalan kaki, ada yang berkendaran, ada yang berpakaian bagus atau bukan, dan setengahnya ada yang berpakaian kebesaran, dan ada pula yang berpakaian sederhana, dan dari mereka ada pula yang bermain dan tertawa di tengan jalan, dan kemungkinan ada pula yang seding menangis, maka semua itu menggugah ingatan kita nanti di hari Kiamat dalam menempuh perjalanan kita masing-masing, menunjuk firman Allah swt:
“(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (QS Maryam 19:85-86).
Dan firmanNya:
“Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangsakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok” (QS An Naba’ 78:18 )
Dan FirmanNya pula:
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.” (QS Ali ‘Imran 3:106 )
Itula sebabnya ada yang menuturkan bahwa Hari Raya adalah merupakan musibah bagi anak-anak yatim (umumnya mereka bersedih), dan bagi sementara mereka yang punya keluarga sudah meninggal.

Rasul Bapak anak Yatim, Abu Bakar ra menampung mereka.

Hikayah/cerita dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw: “Bahwasanya beliau saw berangkat menuju shalat ‘Id, anak anakpun asyik bermain gembira menyambut kehadiran Idul Fitri. Dan diantara mereka ada seorang anak duduk menyaksikan mereka yang tengah berembira, pakainnya bekas dan iapun menangis.
Kemudian Nabi saw bersabda: Hai anak kecil, kenapa kamu menangis sendirian, sedang mereka tengah asyik bermain dan bergembira ? Anak kecil itu belum mengenal Rasul saw lalu iapun menjawab: “Hai orang pria, ayahku meninggal dunia di sisi Rasul saw dalam mengikuti perang ‘anu’. Dan sesudah itu ibuku kawin lagi, menyita harta peninggalan ayahku, kemudian akupun disingkirkan oleh suaminya/ayah tiriku dari rumahku. Dan kini tiada makanan, minuman dan tempat tinggal bagiku.” Sewaktu aku melihat anak-anak sebaya denganku pda hari ini, sedang mereka masih punya ayah, maka ingatanku tertuju ketika ayahku meninggal, itulah yang menyebabkanku menangis.”
Kemudian Rasul saw, memegang tangannya, seraya bersabda: “Hai anak kecil, sukakah jika aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain sebagai saudaramu, dan Fatimah sebagai saudara wanitamu? Maka iapun baru tahu bahwa pria di hadapannya adalah Rasul saw. Jawabnya: “Kenapa tidak suka ya Rasul ?” Selanjutnya iapun dibawa pulang ke rumah beliau saw, diberi pakaian bagus, disuruh makan kenyang, dihiasi dan diberi parfum harum. Lalu iapun tertawa gembira, keluar menjumpai kawan yang sebaya dengannya.
Alkisah, setelah Rasul saw wafat, anak kecil itupun keluar merasa sangat sedih, hingga menaburkan pasir di kapalanya, ia minta bantuan, sahutnya: “Kini keberadaanku seperti semula menjadi anak yatim lagi.”
Akhirnya ia pun ditampung oleh shahabat Abu Bakar Shiddiq, untuknya sendiri.” (Zubdah).

Nabi saw bersabda:
“Siapa membayar zakat fitrah, maka baginya setiap butir (beras/gandum) yang dibayarkan itu, ditukar dengan 70.000 gedung (yang megah), panjang setiap gedung itu sejauh dunia belahan timur dan belahan barat.” (Misykatul Anwar)
Hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda:
“Siapa puasa Ramadhan, kemudian menyambung dengan 6 hari pada bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa setahun penuh.”
Riwayat lain: “Allah Swt memberinya pahalan 6 Nabi, yaitu:

  1. Nabi Adam as,
  2. Nabi Yusuf as,
  3. Nabi Ya’kub as,
  4. Nabi Musa as,
  5. Nabi ‘Isa as dan
  6. Nabi Muhammad saw.

Allah Swt labih tahu pasti tentang kebenar.” (Zubdatul Wa’idhin).


0 Responses to “Meliput Hari Raya Idul Fitri”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mengenai Saya

MUHASABA-lah karena setiap perberbuatan kebaikan akan berbuah kebaikan & setiap perbuatan keburukan akan berbuah keburukan.

Kalender

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: