17
Sep
07

Hidayah atau Kesesatan

(Oleh : Ust. Abdullah Assegaf)

Dengan Menyebut nama Allah Yang Pemurah dan Pengasih

“Dan sesungguhnya telah Kami sediakan untuk jahanam banyak dari golongan jin dan manusia, mereka memiliki hati tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat, dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’râf: 179)

MANUSIA adalah makhluk Allah Swt. Sebagaimana makhluk Allah lainnya, ia terikat hukum ketentuan Allah Swt. Hanya saja, di samping mendapatkan hidayah takwin yang juga didapatkan segenap makhluk Allah lainnya, mereka juga mendapat hidayah tasyri’ dan hidayah inayah. Hidayah tasyri’ adalah hidayah yang diberikan Allah Swt kepada semua manusia. Sedangkan hidayah ‘inayah hanya diberikan kepada mereka yang bertakwa saja.

Dalam al-Quran, banyak disebutkan bahwa umat manusia terbagi ke dalam kelompok orang yang tercerahi dengan hidayah Allah menuju kesempurnaan, dan kelompok orang yang berhak mendapatkan kesesatan yang menyebabkan sempitnya dada mereka.

Dalam al-Quran disebutkan: Sebagian diberiNya petunjuk dan sebagian lagi telah berhak bagi mereka kesesatan. Sesunguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.(al-A’râf: 30)

Allah Swt menjelaskan bahwa manusia selalu perlu kepada-Nya: Wahai manusia, kalian fakir kepada Allah… Karenanya, tak satupun manusia yang dapat mencapai kebenaran kecuali dengan selalu mengikuti aturan-aturan-Nya. Allah memberi ilmu, menyingkap tabir kegelapan penutup hati, dan membebaskan manusia dari lorong kesesatan.

Dalam ayat lain, disebutkan: Tuhanku tidak akan peduli kalau bukan karena doa kalian.(al-Furqân: 77) Allah Swt mengasihi hamba yang tidak menyombongkan diri di hadapan-Nya. Dan Allah meninggalkan mereka yang lupa bahwa dirinya selalu perlu kepada-Nya.Kemudian al-Quran banyak menjelaskan tentang bagaimana meraih hidayah Allah Swt.

Di antaranya, Allah Swt berfirman: Dan bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian.

Hendaknya manusia selalu berusaha mendekat kepada Allah lewat ketakwaan kepada-Nya dan menghindarkan diri dari segala perkara yang menyebabkan kemurkaan-Nya. Dengannya, manusia akan berjalan di bawah cahaya keislaman yang melapangkan dada dan menyelamatkan.
Bukankah orang-orang yang dicerahi dadanya untuk (menerima) Islam maka ia dalam cahaya dari Tuhan-Nya.(al-Zumar: 22)
Al-Quran juga mengimbau agar manusia mencari tuntunan dari orang-orang yang telah dianugerahi ilmu oleh Allah Swt.
Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang paham apabila kalian tiada mengerti.(al-Nahl: 43)
Sebaliknya, Allah Swt melarang manusia melakukan keburukan, baik berupa pelanggaran syariat maupun mengenakan jubah iblis, seperti kesombongan, egoisme, hasud, dan sebagainya. Karena semua itu akan menjadikan manusia menolak kebenaran dari Allah Swt.
Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan keburukan adalah, mereka akan mendustakan ayat-ayat Allah.(al-Rûm: 10)
Dikutip dari http://www.12-imam.com/akhlak1.htm

Renungan:

Jika diibaratkan Hidayah Allah seperti air bersih (misalnya seperti Air Mineral) lalu dituang kedalam gelas yang kotor, maka air tersebut akan menjadi kotor dan berpenyakit. Sedangkan jika air tersebut dituang kedalam gelas yang bersih maka akan tetap bersih dan bermanfaat. Gelas tersebut gambaran dari qolbu kita dan bagaimana qolbu kita menyikapi setiap hidayah Allah yang diterima.

Begitu juga bagi kita yang ingin menyampaikan nasihat, ilmu Allah, kita pun harus menyadari kepada siapa kita sampaikan. Sesuatu yang baik kadang akan ditanggapi dengan tidak baik. Nabi Muhammad saw pun harus menghadapi hingga lututnya terluka. Dan kita pun harus bisa ikhlas, jika ternyata mereka yang tidak bisa menerima dengan baik itu masih ada hubungan saudara dengan kita atau bahkan orang yang kita cintai.
Sebagaimana Allah swt telah contohkan melalui Nabi Ibrahim dengan ayahnya, Nabi Nuh dengan anaknya, Nabi Luth dengan istrinya dan Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah SWT, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untukNya.

QS.LUKMAN (31) 33: ” MAKA JANGANLAH SEKALI2 KEHIDUPAN DUNIA MEMPERDAYAKAN KAMU DAN JANGAN PULA SYAITAN MEMPERDAYAKAN KAMU DALAM MENTAATI ALLOH”

Allah swt mengingatkan agar kita tdk hayut dgn ursn Dunia & lalai dengan urusan Akhirat (mentaati Alloh). Carilah rejeki yg bermamfaat Dunia dan Akhirat.

Mudah2an renungan ini akan menjadi penggugah hati saya dan keluarga serta bagi mereka yang sadar akan mati dalam meniti jalan menuju surga.
:::… bkend.Ukhuwah Islamiah.Sep 2007 …:::


1 Response to “Hidayah atau Kesesatan”


  1. Rabu, 2 Juni 2010 pukul 10:09

    Assalamu’alaikum. salam ukhuwah..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mengenai Saya

MUHASABA-lah karena setiap perberbuatan kebaikan akan berbuah kebaikan & setiap perbuatan keburukan akan berbuah keburukan.

Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: