13
Jul
07

Biasakanlah berdzikir

Dari Abu Musa Al-Asy’ari Rasulullah bersabda:

” Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir laksana orang yang hidup dan orang yang mati. “

Hr Bukhari (dalam Shahihnya bab Ad-Daawat (subbab 66), jilid VII, hal 168.)

Allah Berfirman yang artinya: “Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raaf 7:205).

Ada tiga macam dzikir:

  1. Dzikir dengan lisan, yaitu mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil dan lainnya.
  2. Dzikir dengan hati, yaitu tafakkur terhadap tanda-tanda kebesaran Allah dan tafakkur terhadap dalil-dalil perintah dan larangan yang dibebankan oleh syara’ sehingga dapat diketahui rahasia dan hikmah di balik hukum-hukum itu di samping merenungkan rahasia ciptaan Allah.
  3. Dzikir dengan anggota tubuh, yaitu menenggelamkan (memfokuskan) diri dalam ketaatan. (Fathul Bari, jilid XI, hal 211).

Dengan demikian, keutamaan dzikir tidak hanya terbatas pada ucapan tasbih, tahmid, dan tahlil, melainkan mencakup pula setiap amalan perbuatan yang dimaksudkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Said bin Jubari dan para ulama besar lain.

Imam Atho’ berkata: “Majelis dzikir adalah majelis yang di dalamnya dibahas tentang halal dan haram, bagaimana bermuamalah, shalat, puasa, nikah dll. (Al-Adzkaar, hal 7).

Dzikir paling utama adalah dzikir yang memadukan antara hati dengan lisan. Jika harus dipilih salah satunya, maka dzikir dengan hati lebih utama. Seseorang tidak patut enggan berdzikir dengan lisan bersama dengan hati karena khawatir diduga riya’, namun dia seyogyanya berdzikir dengan memadukan keduanya dan mengarahkan tujuan hanya untuk meraih keridhaan Allah. (Al-Adzkaar, hal 6)

Hadits tersebut dimuka menerangkan secara tersirat keutamaan dzikir. Orang yang dzikir diserupakan dengan orang hidup yang berdenyut urat nadinya, sedangkan orang yang tidak berdzikir diserupakan dengan orang mati. Dikatakan bahwa letak penyerupaan ini adalah orang yang hidup mampu memberikan manfaat kepada orang yang menemaninya dan mampu memberikan bahaya kepada orang yang melawannya. Dan itu tidak dapat dilakukan oleh orang yang mati. (Fathul Baari, jilid XI, hal 211)

Dzikir memiliki sekian banyak faedah, diantaranya yaitu:

Orang-orang yang berdzikir merekalah orang-orangyang terdepan (pelopor) dalam hal kebaikan dan keutamaan derajat. Dalam hadits diterangkan: “Orang-orang yang sendirian akan mendahului (dalam masuk surga).” Para sahabat bertanya: “Siapakah orang-orang yang bersendirian itu ya Rasulullah ?” Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang laki-laki dan perempuan yang dzikir kepada Allah banyak-banyak.” (HR. Muslim dalam Shahihnya dan Doa (subbab 1), hadits nomor 3, jilid IV, hal 2062).

Atas dasar ini kita mendapati Rasulullah memerintahkan kita berdzikir. Beliau bersabda: “Aku perintahkan kalian untuk berdzikir kepada Allah. Seorang hamba tidak akan bisa berlindung dari setan kecuali dengan dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Tirmidzi dlm Sunnahnya bab AL-Amtsaal (subbab 3), hadits nomor 2863, jilid V, hal. 148-149.)

Dengan dzikir, ikatan dan jeratan setan akan terlepas. Sabda Rasulullah: “Setiap waktu tidur, setan meletakkan tiga ikatan (jeratan) di atas kepalamu. Setiap ikatan dipasang tulisan: “Malam ini panjang, tidurlah.” Jika dia bangun tidur dan berdzikir kepada Allah, maka terlepaslah satu ikatan. Jika dia terus berwudhu, maka lepas lagi satu ikatan. Dan jika shalat lepas lagi ikatan berikutnya. Jika berhasil demikian, hari itu dia akan menjadi giat dan segar. Bila tidak, maka dia akan loyo dan malas.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya bab Tahajjud (subbab 12), jilid II, hal. 46)

Barangsiapa berdzikir (mengingat) kepada Allah, maka Allah akan mengingatnya. Alangkah bahagianya orang yang diingat oleh Allah. “Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS Al-Baqarah 2:152).

Dzikir adalah makanan hati dan ruh. Tanpa makanan itu manusia akan kehilangan cahaya dan kehidupan. Dia dapat diumpamakan seperti rumah yang hampir roboh.

Dzikir menghasilkan sifat agung (haibah) yang berasal dari Allah. Dzikir menjadi penyebab turunnya ketenangan dan ketentraman.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13:28)

Dzikir menyebabkan keberuntungan dan kebahagiaan. Allah berfirman: “Dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah 62:10)

Ada sekian banyak hadits yang menerangkan keutamaan takbir, tasbiih, tahmid, dan disini kami tidak bermaksud menuturkannya. Bagi orang yang ingin mengetahui dan mengkajinya lebih luas dan mendalam, hendaklah membuka kitab-kitab besar yang membahas tentang dzikir.

Dzikir semestinya disertai dengan adab dan tata kramanya. Adapun adab dan tata krama itu adalah:

  1. Orang yang dzikir hendaknya dalam penampilan yang bagus. Jika duduk di suatu tempat, dia menghadap qiblat disertai sikap merendahkan diri, tenang.
  2. Tempat yang dipakai berdzikir hendaknya bersih, karena tempat yang bersih lebih menghormati amaliah dzikir dan Dzat Yang Dzikir ditujukan kepadaNya. Karena itu, dzikir di masjid dan di tempat-tempat yang mulia lebih terpuji.
  3. Seyogyanya mulut orang yang berdzikir dalam keadaan bersih. Jika mulutnya kotor dan bau, dia dapat bersiwak dahulu. Jika di mulutnya ada najis, dia dapat menghilangkannya dengan cuci air. Seandainya seseorang dzikir dalam keadaan mulut najis, hukumnya tidak haram, namun makruh.
  4. Dianjurkan berdzikir dalam kondisi kapan saja kecuali dalam kondisi yang dikecualikan oleh syara’, seperti saat duduk buang air, saat bersenggama, dsb.
  5. Orang yang berdzikir seyogyanya mengupayakan diri untuk menghadirkan hati (konsentrasi hati, fokus) dengan merenungi dan berusaha memahami maknanya.
  6. Seseorang yang telah memiliki jadwal rutinitas dzikir di waktu tertentu seperti malam, siang, atau usai shalat, lalu lepas (tidak melakukannya), maka hendaknya dia menggantinya di waktu lain sesegera mungkin, dan tidak menunda-nunda.

Ada beberapa kitab yang berharga tentang amalan siang dan malam telah ditulis oleh beberapa imam. Oleh mereka kitab-kitab itu dilengkapi dengan mengemukakan sanad-sanad muttasil dan jalan-jalan riwayat yang banyak. Di antaranya yang cukup baik adalah kitab Amatil Yaumi wal Lailah susunan Imam Abu Abdir Rahman an Nasa’i. Yang lebih baik lagi adalah kitab Amatul Yaumi wal Lailah susunan Imam Abu bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishak as-Sunnai (Ibnus Sunni), adapula kitab al Adzkaar karya Imam An Nawawi.

sumber: Buletin Jum’at “Majlis Ta’lim Ikhwanul Jannah” Edisi 4/ thn1/ Juni 07/bij.

0 Responses to “Biasakanlah berdzikir”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mengenai Saya

MUHASABA-lah karena setiap perberbuatan kebaikan akan berbuah kebaikan & setiap perbuatan keburukan akan berbuah keburukan.

Kalender

Juli 2007
S S R K J S M
    Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: